Baru-baru ini saya kembali mencoba mengenal JS lebih dalam dengan membaca beberapa buku fundamental dan referensi-referensi JS. Awalnya saya membaca ulang dokumentasi javascript di https://developer.mozilla.org/ sekaligus berkontribusi menerjemahkannya ke bahasa indonesia. Namun, setelah saya berbincang-bincang dengan salah satu teman saya R AdySurya A yang pengetahuannya soal JS sudah sangat dalam, dia merekomendasikan buku ini yang berjudul “You Don’t Know JS Yet”. Kemudian saya coba cari dan yessss ada di github dan gratis untuk versi pertama. Namun ada versi premium yang telah dibungkus menjadi ebook, dan saya memilih ebook sekalian bentuk support kepada penulis. …


Photo by Thought Catalog on Unsplash

Tahun ini adalah salah satu tahun kelam ummat manusia, dimana kita menghadapi musibah berupa wabah penyakit secara global. Setiap negara mulai menerapkan peraturan Lockdown dan banyak perusahan mulai melakukan Work From Home atau dikenal dengan singkatan WFH. Banyak perusahaan yang rugi, mulai melakukan PHK, bahkan tutup. Siapa sangka, salah satu startup yang telah familiar di tengah masyarakat yaitu Airy pun merasakan dampak yang luar biasa hingga memutuskan untuk menutup layanannya.

Menjaga pikiran tetap positif tidak lah mudah. Melihat angka positif covid-19 terus bertambah dan jumlah kematian terus meningkat, tentu membuat kita merasa khawatir. Nah… daripada terus khawatir dan memikirkan hal…


Photo by Kevin Ku on Unsplash

For those who have interview experience in a tech company as a software engineer, surely you are familiar with Big O Notation. Big O notation is just the way we measure the time needed to run an algorithm, so we can find out whether the algorithm used is effective or not.

My personal experience after knowing the concept of Big O Notation, I came to understand how the quality of my code and how to make it more quality and durable. It doesn’t even just look at the technical side of the code, but also makes it easier for me…


Photo by Kevin Ku on Unsplash

Bagi yang berpengalaman interview di perusahaan-perusahaan IT sebagai software engineer, pasti Anda tidak asing dengan Big O Notation. Big O Notation sederhananya adalah cara kita mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu algoritma, sehingga kita bisa tahu apakah algoritma yang digunakan efektif atau tidak.

Pengalaman saya pribadi setelah mengetahui konsep Big O Notation, saya menjadi paham bagaimana kualitas kode saya dan bagaimana cara membuatnya lebih berkualitas dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan tidak hanya sekedar melihat dari sisi teknis kode, tetapi juga memudahkan saya mengambil keputusan dalam dunia nyata. Metode-metode yang ada selama ini dan dilakukan sehari-hari…


Photo by Dallas Reedy on Unsplash

Bagi yang senang main game MOBA, kalian pasti tau betul bagaimana rasanya kesal karena lagging pada saat bermain, entah karena internet lemot maupun performa device yang kurang mantap. Setelah itu apakah yang kalian lakukan? Paling kalian mencoba me-restart modemnya, mengganti jaringan WiFi ke seluler, mengganti jaringan seluler ke WiFi, mengganti jaringan WiFi ke seluler, dan begitu seterusnya 😆. Atau mungkin kita juga pernah mengendarai mobil di jalan yang sempit, kemudian kita mendapati seorang ibu-ibu naik motor bersama anaknya dengan lambat sambil weser (lupa dimatikan 😆), kesel nggak?

Who likes slow?

Itulah mungkin gambaran perasaan orang-orang yang mengakses web yang lambat…


Photo by Patrick Tomasso on Unsplash

Hi, I want to share a little story about my experience as a Frontend Engineer for the past 4 years (from 2015). If I think back, today’s frontend is very different from when I first worked on it. Previously HTML CSS with a little jQuery was enough, now 😱.

Actually I learned the frontend was forced, before I actually prefer the design than coding, as proof of my behance account check here. So in the past I was offered a project by a lecturer, he said web design project. After I designed it, I explained the design concept with confidence…


Photo by Patrick Tomasso on Unsplash

Hi, kali ini saya mau cerita sedikit soal pengalaman sebagai Frontend Engineer selama 4 tahun terakhir (dari tahun 2015). Jika saya ingat-ingat kembali, frontend hari ini dengan frontend saat saya pertama kali menggelutinya itu jaaauuuh sekali berbeda. Dulu HTML CSS dengan bumbu jQuery sedikit sudah cukup, sekarang 😱.

Sebenarnya saya belajar frontend pun secara terpaksa, sebelumnya saya justru lebih suka desain dari pada ngoding, sebagai bukti cek akun behance saya di sini. Sekarang sudah jarang update, kan dah fokus ngoding 🙈. Jadi dulu saya pernah ditawari project sama dosen, awalnya sih dari bahasanya dia bilang desain web. Setelah saya desainkan…


Illustration by Slidesgo on Freepik

Basically we agree that focus is important, and in the world of coding mastering Frontend and Backend at the same time is quite difficult to see the 2019 stack is so complicated. But is that impossible? Here’s my opinion of the fullstack engineer:

1. The ability of the human brain is unlimited

Actually having more expertise or what we call multitalent is not something we just heard. Often we see great people who can master a variety of foreign languages at once. They maximize their potential and naturally enjoy their work so they can be like that.

Well, thus I also believe that this is not impossible to do…


Illustration by Slidesgo on Freepik

Pada dasarnya kita sepakat fokus itu penting, dan dalam dunia per-kode-an menguasai Frontend dan Backend sekaligus adalah hal yang cukup sulit melihat stack 2019 yang begitu rumit. Namun apakah hal itu mustahil dilakukan? Berikut pandangan saya soal fullstack engineer:

1. Kemampuan otak manusia tidak terbatas

Sebenarnya memiliki keahlian lebih atau biasa kita sebut multitalent bukanlah hal yang baru kita dengar. Sering kita menyaksikan orang-orang hebat yang dapat menguasai berbagai bahasa asing sekaligus. Mereka memaksimalkan potensinya dan tentu menikmati pekerjaannya sehingga mereka bisa seperti itu.

Nah, dengan demikian saya pun percaya bahwa hal tersebut tidak mustahil dilakukan dan juga tidak mudah tentunya. …


Photo by Max Nelson on Unsplash

Software Engineer is a profession where a person is required to design and implement software (FYI). In Indonesia, not many people can have a career with the Software Engineer profession. We can see from the graduates majoring in Computer Science, only a few can work in companies that are linear with their majors. Not that I vilify them well because everyone has their own destiny and fortune, but the point here is that Software Engineer is still very little compared to other professions.

Is working as a Software Engineer heavy? In the description maybe yes 😅, because we are required…

Gifa Eriyanto

Frontend Engineer is 😎

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store